Sabtu, 12 Desember 2015

Jalan-jalan ke Taman Konservasi Amorphophllaus ( Bunga Bangkai) di desa Tebat Monok kabupaten Kepahiang, Bengkulu




Musim penghujan di Bulan Desember ini merupakan waktu yang  baik untuk tumbuh-tumbuhan tumbuh subur. Termasuk si Cantik yang berbau khas ini, yakni bunga Amorphophallus, tumbuhan yang  sering disebut Bunga Bangkai ini merupakan salah satu kelompok tumbuhan yang termasuk dalam family Araceae atau bahasa gaulnya talas-talasan. Nah ternyata nih gaes tumbuhan ini memiliki 170 lebih spesies yang tersebar mulai dari Afrika hingga Papua Nugini, atau termasuk tumbuhan yang hanya tumbuh didaerah tropis, persis  seperti di salah satu tempat Konservasinya, yakni  di Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu. Beberapa hari yang lalu saya sengaja pergi ke Kabupaten yang berjarak kurang lebih 52 KM dari kota Bengkulu ini ( belum pernah ngitung men, jadi kira-kira jaraknya segitu deh hehe), untuk melihat secara langsung bunga asli Sumatera ini. Oh ya di Amorphophallus Conservation Park   milik Pak Holidi ini katanya memiliki 7 Spesies, satu belum tau jenis apa, (tapi aku lupa kata bapak ada 7, belum tau jenisnya satu, berarti ada 6 spesies dong ya? Tapi yang aku baca di  spanduk disana  baner disana ada 5?  Heeee sorry ya kalao kurang valid infonya). Nah dari baner yang aku baca “Berdasarkan analsis komunitas Taman Konservasi Amorphophalus, yakni yang dilakukan rekan-rekan dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi  Bandung ( SITH- ITB), yang mengadakan sensus terhadap Amorphophalus ini, ditemukan sebanyak 5 spesies Amorphophallus, yaitu gigas, muelleri, titanum, paeoniifolius dan variabilis, yang tersebar di 45 titik dalam area seluas .
Perlu untuk diketahui  nih  Bunga Bangkai memiliki bentuk yang berbeda satu sama lainnya (berdasarkan spesies), si cantik titanum, merupakan bunga yang terbesar di Dunia, Kelompok bunga ini, memiliki siklus hidup yang unik karena vase vegetativnya tumbuh secara  bergantian dengan fase generative dari satu umbi yang sama.  
Amorphophalus titanum yang baru akan mekar

Amorphophalus titanum yang telah mekar kurang lebih 4 hari


Batang dari Amorphophallus Gigas sebelum mati dan tumbuh menjadi bunga

Batang Amorphophallus titanum sebelum mati dan tumbuh menajdi bunga, bercorak bintik-bintik kehijauan

Amorphophalus titanum

 Kata pak Holidin, dulu  beliau sempat  memotong umbi dari si Amorphophallus ini menjadi  ratusan bagian, karena memang si Amor ini merupakan tumbuhan umbi-umbian jadi gampang binggo kalo mau di kembangbiakkan.
Oh ya, yang hampir mirip dengan titanum ini adalah Gigas, tapi kata Pak Holidin yang bunganya lebih gede tetep titanum,  si Gigas ini merupakan jenis langka, batangnya berbintik-bintik butih dan cendrung memiliki tekstur yang lebih kasar. Sedangkan titanum batangnya berbentik-bintik kehijauan dan tekstur batangnya lebih halus, sehalus kulit akuuu hihi…
Beda lagi dengan Amorphophallus jenis variabilis, yakni lebih kecil,  kira-kira segede  satu buah bongkol kol yang paling gede. Saat aku berkunjung kebetulan ada 2 bunga yang sedang mekar, tapi yang satnya sudah mulai layu.
duo bangke hahaha bukan aku yang banke, tapi dibelakang aku ada si titanum yang bangke

Tita teman kampus aku

Pengunjung dari PU PPusat, kebetulan melintasi jalan lintas Kepahiang - Bengkulu

Taman Konservasi Amorphophalus

Diantara banyak bunga Amorphophalus yang ada disni, aku paling suka yang jenis paeoniifalius, karena bentuknya yang simple, kecil, dan enak banget buat dimakan, eeh bercnda…. Hehehe, bentuknya kira sperti bunga terompet, atau bunga tulip, atau bunga kuping gajah (mungkin hehe), tingginya kira-kira 15 cm. batangnya juga kecil, motifnya hampir sama dengan titanum versi mini. 
Bunga yang paling aku suka
Namun sayang, si cantik ini, belum mendapatkan perhatian dari pemerintah Bengkulu, eh malah orang-orang dari Luar kota dan luar negri yang lebih menaruh simpatik pada bunga ini, seperti teman-teman dari LIPI dan IPB, dan tamu-tamu dari manca Negara seperti Korea Selatan dsb (karena banyak aku  kaga hapal ).
Jangankan pemerintah provinsi Bengkulu khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bengkulu, masyarakatpun hanya sebgaian saja yang antusias dengan keberadaan puspa langka ini. konon katanya (pak Holidin)
Bunga Bangkai ini saat masih di rawat di kediaman beliau (belum di taman konservasi ini), bunga ini sempat ditebang oleh masyrakat, katanya sih masyarakat merasa terganggu dengan baunya. Yaiyalah namanya aja bunga bangke kan ya, tapi ga giitu juga kali, justru kita harus bersama-sama melestarikan dan merawat bunga ini, bila perlu dibuat taman konservasi lainnya khusus untuk Amorphophalus dan Bunga Rafflesia, karena kebetulan dua puspa langka ini memiliki habitat yang cukup banyak di beberapa daerah di Bengkulu, kan sayang kalau tidak dilestarikan, seharusnya, itu bisa menjadi salah satu destinasi wisata alam yang mampu menarik pawa wisatawan untuk berkunjung ke Provinsi Bengkulu, karena tanah Bengkulu ini merupakan tanah yang subur, dan merupakan  daerah tropis yang bagus untuk pertumbuhan bunga-bunga langka tersebut, syangnya lagi minim perhatian dan promosi dari pemerintah, padahal mereka bilang “katanyaa” iconnya Bengkulu itu Rafflesia dan Bunga Bangkai, tapi kayaknya sebatas kata-kata doang. Tapi mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, yang merasa disenggol disni, tidak hanya marah-marah akan tetapi lebih sadar, dan tergerak hatinya untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan puspa-puspa langka ini, khususnya pemerintah.

Okeh kita balik lagi ngomongin si Bunga Bangkai, nah ini yang mungkin harus diluruskan, masih ada saja masyarakat yang masih bingung membedakan antara mana bunga Bangkai dengan Bunga Raffleisa, perlu diketahui sebelumnya aku sudah menjelaskan macacm-macam spesies dari amorphophalus, baik kita ambil contoh saja Amorphophalus titanum dengan Rafflesia, titanum, memiliki bentuk bunga yang sangat besar dan tinggi, tingginya bisa mencapai 2 meter, dan memiliki bau yang sangat menyengat bila sedang mekar, bunganya berwarna keunguan, sedang Rafflesia, berwara kemerahan, dengan bercak-bercak, umumnya memiliki kelompak sebnyak 5, bunganya rendah namun besar dan lebar,dan pastinya bunga Rafflesia tidak berbau. So jangan salah lagi ya untuk penyebutan bunga bangkai dan bunga Rafflesia.
Nah bagi kamu yang ingin berkunjung kesini, gampang banget nemunya,berada di Desa Tebat Monok, kabupaten Kepahiang, Bengkulu, Berada di KM 52 (kalo ga salah), dipinggir jalan tepatnya jalan lintas Kepahiang- Bnegkulu, Tanya aja Konservasi Bunga Bangkai punyanya pak Holidin, yang di tinggal di perumahan SLB Kepahiang.  Buka setiap hari, tempatnya bagus sekali untuk kamu yang ingin menambah pengetahuan mengenai puspa langka, biaya masuknya sukarela,  aku beruntung banget bisa langsung dipandu oleh Pak Holidin, orangnya baik sekali dan sangat terbuka.Dengan sabar beliau menemani kami berkeliling taman Konservasinya. Jangan bayangkan tamannya sudah selengkap seperti di kebun Raya Bogor, Taman ini, dibuat di  tanah pribadinya sendiri, seperti kebun, tapi sudah dibersihkan, lahannya miring, karena berada di pegunungan, bagian bawahnya dialliri sebuah anak sungai, jadi ada bunyi-bunyi gemericik angin, asri, alami, ga nyesel kesini. Bagi kamu yang butuh info lebih lanut silahkan hubungin Pak Holidin di 0852 736 939 69. #PUSPALANGAKA